Artikel

Saya Meminta Klien Berhenti Mengejar Produk Terlarisnya

artikel 5
Tentang Pelanggan

Saya Meminta Klien Berhenti Mengejar Produk Terlarisnya

Boardroom Talk by Temucara

Suatu hari saya sedang berdiskusi dengan seorang klien manufaktur.

Beliau membuka meeting dengan satu keluhan.

“Pak, akhir-akhir ini pabrik penuh terus.”

“Lembur hampir setiap minggu.”

“Order banyak.”

“Tapi saya merasa capeknya bertambah, untungnya kok biasa saja.”

Saya tersenyum.

Lalu berkata,

“Coba kita lihat angka-angkanya dulu.”

Kami membuka laporan penjualan.

Total omzet perusahaan sekitar Rp20 miliar per bulan.

Produk A menyumbang hampir Rp10 miliar.

Sisanya berasal dari Produk B dan Produk C.

Sekilas tidak ada yang aneh.

Produk A memang menjadi andalan perusahaan.

Saya lalu bertanya,

“Produk mana yang paling banyak memakai kapasitas produksi?”

Beliau langsung menjawab,

“Produk A.”

Saya bertanya lagi,

“Kalau dihitung, laba kotornya berapa?”

Beliau membuka datanya.

Produk A sekitar 12%.

Produk B sekitar 28%.

Produk C sekitar 30%.

Saya mengambil selembar kertas.

Lalu saya berkata,

“Selama ini Bapak mengejar produk yang paling laku.”

Saya berhenti sebentar.

Lalu melanjutkan,

“Sekarang coba kita kejar produk yang paling menguntungkan.”

Beliau terlihat berpikir.

Saya lanjutkan lagi.

“Kalau kapasitas pabrik Bapak terbatas, menurut Bapak lebih baik dipakai untuk menghasilkan laba 12%… atau 30%?”

Beliau langsung tersenyum.

Sepertinya mulai menangkap arah pembicaraan saya.

Tetapi saya menambahkan satu hal.

“Saya tidak meminta Bapak menghentikan Produk A.”

“Produk itu tetap dijual.”

“Yang saya minta, jangan lagi menjadikan Produk A sebagai fokus pertumbuhan.”

Sebaliknya, saya meminta tim mulai memperbesar penjualan Produk B dan Produk C.

Pelan-pelan.

Tanpa mengganggu customer yang sudah ada.

Enam bulan kemudian kami kembali bertemu.

Omzet perusahaan hanya naik sekitar 5%.

Tetapi profitnya naik jauh lebih besar.

Lembur mulai berkurang.

Jadwal produksi lebih longgar.

Dan kapasitas pabrik dipakai untuk produk yang memberikan keuntungan lebih baik.

Di akhir meeting beliau berkata,

“Selama ini saya selalu mengira produk terbaik adalah produk yang paling laku.”

Saya tersenyum.

Lalu menjawab,

“Produk terlaris belum tentu produk terbaik.”

“Produk terbaik adalah produk yang membuat perusahaan menjadi lebih sehat.”

Menurut saya, banyak owner terjebak mengejar omzet per produk.

Padahal yang seharusnya dikejar adalah kualitas keuntungan yang dihasilkan setiap kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan.

Karena kapasitas pabrik itu terbatas.

Kalau kapasitas tersebut habis dipakai untuk produk dengan keuntungan tipis, perusahaan akan semakin sibuk.

Belum tentu semakin untung.

⸻

Tentang Temucara

Di Temucara, kami membantu Owner melihat bisnis dari sudut pandang yang sering terlewat: produk mana yang benar-benar menciptakan keuntungan, mana yang hanya menghabiskan kapasitas, dan bagaimana mengalokasikan sumber daya agar pertumbuhan menghasilkan profit yang lebih sehat.

Melalui laporan keuangan, business financial advisory, dan analisis profitabilitas, kami membantu owner mengambil keputusan berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan produk yang paling laris.

Bagi Anda yang sedang mencari konsultan bisnis Surabaya, konsultan keuangan bisnis Surabaya, business advisor Surabaya, atau jasa laporan keuangan Surabaya, kami membantu memastikan setiap keputusan bisnis memperkuat profit, arus kas, dan masa depan perusahaan.

Real Business. Better Decisions.

Bagikan artikel ini