“Harusnya Sih Untung…”
August 24, 2026 2026-08-25 3:54“Harusnya Sih Untung…”
Boardroom Talk by Temucara
Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang Owner Bisnis Online
Bisnisnya sudah jalan cukup lama. Penjualannya bagus. Timnya sudah lumayan banyak. Transaksi setiap hari juga ramai.
Ngobrol ke sana ke mari, sampai akhirnya saya tanya,“Bulan lalu untung bersihnya berapa?”
Dia diam sebentar. Lalu jawab, “Harusnya sih masih bagus, Pak.”
Saya senyum. Bukan karena jawabannya salah. Tapi saya tertarik dengan satu kata:
“Harusnya.”
Karena ternyata kata ini cukup sering muncul ketika saya ngobrol dengan owner.
Harusnya masih untung.
Harusnya cashflow aman.
Harusnya iklannya masih menghasilkan.
Dan menurut saya, semakin besar bisnis kita, semakin mahal harga dari sebuah “harusnya.”
Waktu bisnis masih kecil, sebenarnya sangat wajar kalau banyak keputusan masih pakai feeling. Owner masih pegang hampir semuanya. Order belum terlalu banyak. SKU masih sedikit. Tim juga belum banyak. Supplier masih hafal satu-satu. Barang masuk keluar masih kebayang. Buka rekening, lihat saldo, kurang lebih kita tahu kondisi bisnis.
Kadang tanpa laporan keuangan yang lengkap pun owner masih bisa bilang, “Bulan ini kayaknya bagus.” Dan bisa jadi benar. Karena bisnisnya memang belum terlalu kompleks.
Tapi begitu bisnis itu jalan beberapa tahun. Omzet mulai naik. Yang tadinya satu toko marketplace jadi lima. SKU yang tadinya puluhan jadi ratusan. Transaksi yang tadinya ratusan jadi ribuan. Rekening bertambah. Karyawan bertambah. Gudang makin besar. Mulai main ads, affiliate, voucher, campaign. Retur mulai banyak. Belum lagi soal pajak. Bisnisnya berubah. Tapi kadang cara owner melihat bisnisnya masih sama.
Nah, ini yang menarik. Bukan karena owner-nya nggak ngerti bisnis. Justru bisnisnya sudah berkembang sampai satu titik di mana semuanya nggak mungkin lagi disimpan di kepala.
Saya melihat ada pola yang cukup menarik. Ketika bisnis tumbuh, biasanya kita rajin upgrade banyak hal.
Order makin banyak? Tambah orang.
Gudang penuh? Cari gudang lebih besar.
Penjualan naik? Tambah stok.
Marketing mulai serius? Tambah budget ads.
Butuh kontrol? Beli software.
Semua ikut naik kelas. Tapi ada satu yang kadang lupa ikut di-upgrade:
Cara Owner membaca bisnisnya.
Padahal menurut saya justru ini penting. Karena keputusan di bisnis Rp100 juta dan bisnis Rp1 miliar punya konsekuensi yang sangat berbeda. Salah beli stok waktu bisnis masih kecil mungkin Rp10 juta. Begitu bisnis membesar, salah purchasing bisa membuat ratusan juta rupiah diam di gudang berbulan-bulan.
Diskon Rp5.000 terasa kecil. Kalikan 20.000 transaksi. Jadi Rp100 juta.
Margin meleset 2% Kelihatannya sepele. Kalikan omzet Rp1 miliar. Jadi Rp20 juta.
Semakin besar bisnis, kesalahan kecil ikut membesar. Dan ada satu hal lagi yang menurut saya sering menjebak. Saldo rekening. Dulu mungkin melihat rekening sudah cukup memberi gambaran kondisi bisnis. Sekarang belum tentu. Ada Rp1 miliar di rekening bukan berarti kita punya Rp1 miliar yang bebas dipakai. Mungkin ada supplier yang harus dibayar. Ada gaji. Ada pajak. Ada kewajiban lain.
Sebaliknya, rekening tipis juga belum tentu bisnis sedang rugi. Bisa jadi uangnya berubah jadi stok. Bisa tertahan di settlement marketplace. Bisa masuk piutang. Jadi semakin besar bisnis, saldo rekening cuma menceritakan sebagian kecil dari cerita. Owner butuh gambar yang lebih utuh. Buat saya, laporan keuangan bukan tujuan. Bukan pula sekedar rutinitas setiap akhir bulan cuma dikirim oleh accounting, dibuka sebentar, lalu disimpan.
Karena sebenarnya laporan itu harus membantu owner menjawab hal yang lebih penting.
Saya sebenarnya untung berapa?
Uang saya sekarang ada di mana?
Cashflow bulan depan aman nggak?
Bagian bisnis mana yang paling menghasilkan?
Uang paling banyak habis di mana?
Dan setelah tahu semuanya: Saya harus ngapain?
Nah. Buat saya, baru di situ angka mulai berguna. Owner tidak perlu jadi orang finance. Tapi owner perlu punya angka yang bisa dipercaya ketika harus mengambil keputusan. Dan saya tetap percaya feeling owner itu penting. Bahkan sangat penting.
Orang yang sudah bertahun-tahun membangun bisnis pasti punya pengalaman dan insting yang tidak bisa digantikan spreadsheet. Jadi bukan memilih feeling atau angka. Menurut saya justru kombinasi keduanya yang powerful: Pengalaman owner + angka yang benar. Feeling memberi kita arah. Angka membantu memastikan apakah feeling itu benar.
Jadi kalau bisnis Anda sekarang sudah jauh lebih besar dibanding tiga atau lima tahun lalu, mungkin sesekali ada baiknya berhenti sebentar. Bukan untuk bertanya: “Gimana caranya omzet saya naik lagi?” Tapi justru:
“Cara saya melihat bisnis ini sudah ikut naik kelas belum?”
Karena jangan sampai bisnisnya sudah miliaran. Timnya sudah banyak. Transaksinya sudah ribuan. Gudangnya sudah besar. Tapi ketika ditanya kondisi bisnis hari ini… kita masih menjawab: “Harusnya sih…”Mungkin yang perlu di-upgrade berikutnya bukan omzetnya. Tapi cara kita membaca bisnisnya.
Tentang Temucara
Financial Reporting • Tax • Business Advisory
Temucara membantu Owner Bisnis Online memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik angka-angka bisnis mereka. Mulai dari laporan keuangan, perpajakan, cashflow, hingga business financial advisory. Karena tujuan akhirnya bukan sekadar memiliki laporan. Tetapi membantu Owner mengambil keputusan yang lebih tepat, mengendalikan bisnis dengan lebih baik, dan bertumbuh dengan lebih sehat.
Real Business. Better Decisions.