Marketplace Tidak Peduli Profit Anda
June 9, 2026 2026-06-17 12:37Marketplace Tidak Peduli Profit Anda
Boardroom Talk by Temucara
Beberapa waktu terakhir saya sering melihat topik yang sama muncul di berbagai komunitas bisnis online.
Fee marketplace naik.
Biaya layanan naik.
Biaya affiliate naik.
Biaya iklan naik.
Dan hampir selalu diakhiri dengan pertanyaan yang sama.
“Kalau begini terus, masih untung nggak ya?”
Menurut saya, itu pertanyaan yang tepat.
Karena masalahnya bukan berapa persen fee yang naik.
Masalahnya adalah apakah bisnis masih menghasilkan profit yang sehat.
Coba lihat dari sudut pandang yang berbeda.
Marketplace hidup dari transaksi.
Semakin banyak transaksi terjadi, semakin baik.
Semakin banyak order masuk, semakin baik.
Semakin besar GMV, semakin baik.
Dan memang seharusnya begitu.
Itu model bisnis mereka.
Masalahnya, tujuan marketplace dan tujuan owner tidak selalu sama.
Marketplace dibayar dari transaksi.
Owner dibayar dari profit.
Kelihatannya mirip.
Padahal sangat berbeda.
Saya sering melihat owner senang ketika penjualan naik.
Dan memang seharusnya senang.
Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih penting.
Dari tambahan penjualan itu, berapa yang benar-benar menjadi keuntungan?
Karena tambahan transaksi belum tentu menghasilkan tambahan profit.
Kadang yang bertambah hanya aktivitas.
Bayangkan sebuah produk dijual Rp100.000.
Lalu muncul:
● fee marketplace
● biaya layanan
● affiliate
● iklan
● voucher
● gratis ongkir
● retur
Satu per satu terlihat kecil.
Tetapi ketika semuanya dijumlahkan, hasil akhirnya sering mengejutkan.
Yang tersisa jauh lebih kecil daripada yang terlihat di dashboard.
Saya pernah bercanda dengan seorang owner.
Saya bilang:
“Jangan-jangan yang paling untung dari toko ini bukan Anda.”
Kami tertawa.
Tetapi setelah angka dibuka, ternyata tidak sepenuhnya salah.
Karena sebagian besar tambahan omzet ternyata habis untuk biaya platform dan promosi.
Bisnis semakin ramai.
Tetapi profit tidak ikut bertumbuh.
Di sinilah banyak owner mulai terjebak.
Mereka mengejar omzet.
Mereka mengejar order.
Mereka mengejar produk terlaris.
Padahal yang seharusnya dikejar adalah profit.
Karena yang masuk ke rekening bukan omzet.
Yang masuk ke rekening adalah apa yang tersisa setelah semua biaya selesai dihitung.
Semakin ketat persaingan marketplace, semakin besar godaan untuk mengorbankan margin.
Diskon sedikit lagi.
Voucher sedikit lagi.
Affiliate sedikit lagi.
Iklan sedikit lagi.
Semuanya dilakukan demi satu tujuan.
Penjualan naik.
Masalahnya, kalau semua kompetitor melakukan hal yang sama, siapa yang sebenarnya menang?
Belum tentu owner.
Ada satu kalimat yang menurut saya layak diingat.
Marketplace membantu menghasilkan transaksi.
Profit tetap harus dihasilkan oleh bisnis Anda sendiri.
Karena marketplace tidak dirancang untuk menjaga margin Anda.
Marketplace dirancang untuk meningkatkan transaksi.
Dan itu dua hal yang berbeda.
Saya bukan anti marketplace.
Justru banyak bisnis bertumbuh karena marketplace.
Tetapi marketplace hanyalah channel penjualan.
Bukan tujuan bisnis.
Tujuan bisnis tetap sama.
Profit yang sehat.
Cashflow yang sehat.
Bisnis yang bisa bertahan.
Karena itu saya lebih suka melihat profit per produk daripada sekadar omzet per produk.
Saya lebih suka melihat profit per channel daripada sekadar order per channel.
Karena tidak semua produk yang laris menguntungkan.
Dan tidak semua channel yang ramai menghasilkan profit yang baik.
Mungkin pertanyaan yang perlu ditanyakan hari ini bukan:
“Bagaimana cara menjual lebih banyak?”
Tetapi:
“Berapa banyak yang benar-benar berhasil saya pertahankan?”
Karena pada akhirnya bisnis tidak dibangun dari transaksi.
Bisnis dibangun dari keuntungan yang berhasil dipertahankan.
Ada satu kalimat terakhir yang menurut saya layak diingat.
Ramai belum tentu untung.
Dan transaksi yang tinggi belum tentu menghasilkan bisnis yang sehat.
Karena marketplace bisa membantu Anda terlihat besar.
Tetapi hanya profit yang membuat bisnis bertahan.
Tentang Temucara
Temucara membantu owner bisnis online memahami profit, cashflow, dan angka yang benar-benar menentukan kesehatan bisnis.
Mulai dari laporan keuangan, perpajakan, hingga business financial advisory.
Karena bisnis yang sehat tidak dibangun dari omzet semata.
Tetapi dari profit yang berhasil dipertahankan.
Real Business. Better Decisions.