Artikel

Omzet Naik, Kok Profit Tidak Ikut Naik?

WhatsApp Image 2026-06-09 at 14.48.09
Tentang Uang

Omzet Naik, Kok Profit Tidak Ikut Naik?

Boardroom Talk by Temucara

Salah satu kalimat yang paling sering saya dengar dari owner bisnis online adalah:
“Penjualan naik sih Pak.”
Biasanya setelah itu ada jeda beberapa detik.
Lalu dilanjutkan:
“Tapi kok profitnya stuck ya?”
Menarik ya.
Karena secara logika sederhana harusnya kalau penjualan naik, profit juga ikut naik.
Harusnya.
Tapi di dunia bisnis, terutama bisnis online, kenyataannya sering tidak sesederhana itu.
Bahkan saya cukup sering menemukan bisnis yang omzetnya naik cukup besar, tetapi profitnya malah makin tergerus habis.
Ada yang omzet naik 20%.
Profit naik 2%.
Ada yang omzet naik 30%.
Profit malah turun.

Kalau baru pertama kali mendengarnya memang terdengar aneh.
Tapi kalau sudah melihat banyak laporan keuangan, sebenarnya ini kejadian yang cukup umum.
Masalahnya begini.
Sebagian besar owner melihat pertumbuhan dari angka penjualan.
Karena itu angka yang paling mudah dilihat.
Dashboard marketplace menampilkan penjualan.
Laporan harian menampilkan penjualan.
Tim sales bicara penjualan.
Marketing bicara penjualan.
Semua orang bicara penjualan.
Jarang ada yang setiap pagi membuka dashboard lalu bertanya:
“Profit minggu ini berapa?”
Padahal seharusnya itu pertanyaan yang jauh lebih penting.

Saya sering mengibaratkan omzet dan profit seperti berat badan dan kesehatan.
Naik berat badan belum tentu lebih sehat.
Turun berat badan belum tentu lebih sehat.
Kita perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh.
Bisnis juga begitu.
Omzet hanyalah angka di permukaan.
Profit adalah cerita yang sebenarnya.
Coba bayangkan ada sebuah produk yang dijual Rp100.000.
Lalu kompetitor mulai bermunculan.
Persaingan makin ketat.
Marketplace makin ramai.
Akhirnya owner mulai melakukan apa yang dilakukan hampir semua orang.
Diskon.
Voucher.
Gratis ongkir.
Cashback.
Affiliate.
Iklan.
Live streaming.

Flash sale.
Dan memang berhasil.
Penjualan naik.
Order naik.
Toko makin ramai.
Masalahnya, semua aktivitas itu ada biayanya.
Dan biaya-biaya ini sering tidak terasa ketika dilihat satu per satu.
Rp2.000 di sini.
Rp5.000 di sana.
Rp1.500 lagi di tempat lain.
Kelihatannya kecil.
Tetapi ketika dijumlahkan ribuan transaksi dalam satu bulan, hasilnya bisa sangat besar.

Yang lucu adalah banyak owner justru merasa bisnis sedang berkembang.
Karena tim makin sibuk.
Gudang makin sibuk.
Admin makin sibuk.
Live streaming makin sering.
Pesanan makin banyak.
Semua terlihat bergerak.
Padahal bisa jadi yang bertambah hanyalah aktivitas.
Bukan profit.
Saya pernah bercanda dengan seorang owner.
Saya bilang:
“Jangan-jangan bisnisnya tambah besar, tapi yang kaya marketplace.”
Kami tertawa.
Tapi setelah laporan keuangan dibuka, ternyata tidak jauh dari kenyataan.

Karena sebagian besar tambahan omzet ternyata habis untuk biaya iklan, biaya platform, dan promo.
Owner bekerja lebih keras.
Tim bekerja lebih keras.
Tetapi keuntungan yang tersisa tidak banyak berubah.
Di sinilah menurut saya banyak owner terjebak.
Mereka mengejar omzet seolah-olah omzet adalah tujuan akhir.
Padahal omzet itu cuma kendaraan.
Bukan tujuan.
Tujuan akhirnya tetap profit.
Kalau omzet naik tetapi profit tidak naik, berarti ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Karena bisnis sedang berlari lebih kencang tetapi belum tentu bergerak ke arah yang benar.

Saya pribadi lebih senang melihat bisnis dengan kondisi seperti ini:
Tahun lalu omzet Rp500 juta.
Tahun ini omzet Rp600 juta.
Naik 20%.
Tetapi profit naik 50%.
Menurut saya ini jauh lebih menarik.
Karena artinya bisnis bertumbuh dengan sehat.
Bukan sekadar bertumbuh secara ukuran.
Pertanyaan yang biasanya saya ajukan ke owner cukup sederhana.
Kalau bulan depan omzet Anda naik 30%, apakah Anda tahu berapa tambahan profit yang akan didapat?
Menariknya, banyak yang tidak bisa menjawab.

Karena memang belum pernah dihitung.
Yang penting jualan dulu.
Yang penting ramai dulu.
Profit nanti mengikuti.
Padahal sering kali justru profit yang harus direncanakan lebih dulu.
Saya percaya setiap owner perlu sesekali berhenti melihat dashboard marketplace.
Lalu membuka laporan yang berbeda.
Bukan laporan penjualan.
Tetapi laporan laba rugi.
Karena di situlah biasanya cerita yang sebenarnya muncul.
Produk mana yang menghasilkan uang.
Produk mana yang hanya menghasilkan kesibukan.
Channel mana yang menguntungkan.
Channel mana yang sebenarnya hanya mengejar omzet.
Kalau hari ini Anda merasa bisnis semakin besar tetapi hasilnya tidak terasa jauh berbeda, mungkin pertanyaannya bukan:
“Bagaimana cara menaikkan penjualan?”
Mungkin pertanyaannya adalah:
“Ke mana tambahan penjualan itu pergi?”
Karena sering kali jawabannya ada di sana.
Dan begitu ketemu, keputusan bisnis biasanya menjadi jauh lebih jelas.

Tentang Temucara
Temucara membantu owner bisnis online memahami angka di balik penjualan, profit, cashflow, dan pertumbuhan bisnis mereka.
Karena bisnis yang sehat bukan sekadar bisnis yang ramai.
Tetapi bisnis yang menghasilkan profit secara konsisten.
Real Business. Better Decisions.

Bagikan artikel ini